Mandeh merupakan kawasan wisata yang terletak di Kecamatan Koto XI Tarusan yang berbatasan langsung dengan Kota Padang. Kawasan ini hanya berjarak 56 Km dari kota Padang dengan waktu tempuh sekitar 1 jam dan memiliki luas ± 18.000 Ha meliputi 7 desa dari 3 nagari. Secara geografis Mandeh terletak pada posisi 1˚ 22’ 01’’ – 1˚ 26’ 06’’ LS dan 100˚50’ 54” – 100˚55’ 36’’ BT.
Kawasan wisata Mandeh sedang “hits” dikalangan wisatawan Pulau Sumatera. Peningkatan jumlah kegiatan pariwisata, menjadi bukti kemegahan alam Sumatera Barat (Sumbar).
![]() |
| Bagga Cottage Kawasan Wisata Mandeh, Foto by Kelly |
Pariwisata Sumbar saat ini tidak hanya terfokus pada wisata daratnya saja. Perkembangan menuju wisata bahari juga sedang berkembang pesat, dimana pulau-pulau yang dahulunya belum terjamah saat ini telah banyak dikunjungi oleh para wisatawan lokal ataupun dari luar Sumbar seperti, Jambi, Riau, Palembang dan Bengkulu.
Banyak orang mengejar keindahan alam dan mengeksplor wisata bahari, tidak terkecuali alam indah Kawasan Mandeh yang mencakup Sungai Pisang, Sungai Pinang, Tarusan serta Kenagarian Mandeh sendiri.
Namun, pertanyaan yang menjadi kendala seluruh Stakeholder di Sumbar. Pilihan “Ecotourism Mandeh”, antara Konservasi atau industri ekowisata bahari, bagaimana dampak positif dan negatif dalam pengembangan Kawasan Mandeh.
Kondisi penting dibahas dalam tulisan ini, terkait dampak positifnya dari ekowisata bahari tersebut.
Dampak Positif
Hal positif pertama yakni lingkungan ekonomi. Parameter real “economy massive” menjadi tolak ukur peningkatan.
Saat ini induksi ekonomi masyarakat meningkat dengan tajam. Meningkatnya jumlah manusia yang datang ke Mandeh tentu adalah sebuah jawabannya. Masyarakat dapat tampil dengan ekonomi sederhana untuk meraup keuntungan, baik kalangan bawah ataupun kalangan ekonomi atas. Sumbar bersama seluruh masyarakatnya.
Perlu kita akui pola komplit “perdagangan” sangat baik, masyarakat setempat bisa mengemas sebuah pertumbuhan ekonomi dengan baik. Menjadikan pengembangan sumber ekonomi ekowisata dalam konteks terbaik.
Berbanding lurus dengan parameter tersebut dalam peningkatan lapangan pekerjaan masyarakat. Masyarakat yang biasanya hanya bekerja sebagai nelayan mendapat berkah dari peningkatan kegiatan pariwsiata bahari disana.
Sederhananya, Infrastuktur penunjang ikut ter upgrade melalui pembangunan besar-besaran. Bukan hanya dari investor lokal, tetapi juga investor luar yang ingin ikut unjuk gigi dalam pengembangan kawasan wisata bahari terbesar di Sumbar.
Dalam penelitian mahasiswa Universitas Riau, Kelly Fuadi dengan judul Kajian Ekowisata Bahari Tahun 2014. Skala peningkatan ekonomi terbesar, terlihat dari nilai “WTA”. Nilai tersebut memberikan titik temu antara nilai kesediaan masyarakat dalam menawarkan jasa wisata dan pengunjung sebagai penerima jasa. Bahkan, nilai kesediaan pengunjung untuk membayar jasa wisata lebih tinggi dari nilai yang diharapkan masyarakat.
Boemi Bahari Company dan Tim Penyelam Hitam (Swasta). Universitas Bung Hatta, Universitas Andalas, ITP Padang, Universitas Riau (Akademisi). Ditambah dengan komunitas selam Diving Proklamator dan Marine Science Diving Club (MSDC) sangat intens dalam beberapa tahun ini, terlibat continue turut mengembangan kawasan Mandeh, baik sebagai kawasan konservasi ataupun sebagai kawasan industri pawisata bahari.

Kawasan yang sudah dibentuk sebagai Taman Wisata Perairan tertera pada Perda Kabupaten Pesisir Selatan Nomor 7 Tahun 2011 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Pesisir Selatan Tahun 2010-2030. Tentu ini menjadi batasan real dalam pengelolaan kawasan Mandeh, sebagai Taman Wisata.

Kawasan yang sudah dibentuk sebagai Taman Wisata Perairan tertera pada Perda Kabupaten Pesisir Selatan Nomor 7 Tahun 2011 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Pesisir Selatan Tahun 2010-2030. Tentu ini menjadi batasan real dalam pengelolaan kawasan Mandeh, sebagai Taman Wisata.
Menurut M. Tanjung, pengembangan terpadu yang “continue” dalam ruang dan waktu bukan hanya dari alam yang terkembang, melainkan dari sinergitas sumberdaya manusianya. Hal ini telah diwujudkan dari keterpaduan kegiatan-kegiatan konservasi tranplantasi karang, pelaksanaan even Underwater Photography Mandeh 2017. Hubungan yang tak terpisahkan antar lembaga pemerintahan dan pendidikan saat ini sangat “progressive” menjadi sangat cepat, tambah instruktur selam Sumatera Barat tersebut.



