Tampilkan postingan dengan label Lingkungan Hidup. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Lingkungan Hidup. Tampilkan semua postingan

Minggu, 14 Mei 2017

Konservasi Ecotourism Kawasan Wisata Terpadu Mandeh

Mandeh merupakan kawasan wisata yang terletak di Kecamatan Koto XI Tarusan yang berbatasan langsung dengan Kota Padang. Kawasan ini hanya berjarak 56 Km dari kota Padang dengan waktu tempuh sekitar 1 jam dan memiliki luas ± 18.000 Ha meliputi 7 desa dari 3 nagari. Secara geografis Mandeh terletak pada posisi 1˚ 22’ 01’’ – 1˚ 26’ 06’’ LS dan 100˚50’ 54” – 100˚55’ 36’’ BT.
Bagga Cottage Kawasan Wisata Mandeh, Foto by Kelly
Kawasan wisata Mandeh sedang “hits” dikalangan wisatawan Pulau Sumatera. Peningkatan jumlah kegiatan pariwisata, menjadi bukti kemegahan alam Sumatera Barat (Sumbar).

Pariwisata Sumbar saat ini tidak hanya terfokus pada wisata daratnya saja. Perkembangan menuju wisata bahari juga sedang berkembang pesat, dimana pulau-pulau yang dahulunya belum terjamah saat ini telah banyak dikunjungi oleh para wisatawan lokal ataupun dari luar Sumbar seperti, Jambi, Riau, Palembang dan Bengkulu.

Banyak orang mengejar keindahan alam dan mengeksplor wisata bahari, tidak terkecuali alam indah Kawasan Mandeh yang mencakup Sungai Pisang, Sungai Pinang, Tarusan serta Kenagarian Mandeh sendiri.

Namun, pertanyaan yang menjadi kendala seluruh Stakeholder di Sumbar. Pilihan “Ecotourism Mandeh”, antara Konservasi atau industri ekowisata bahari, bagaimana dampak positif dan negatif dalam pengembangan Kawasan Mandeh.

Kondisi penting dibahas dalam tulisan ini, terkait dampak positifnya dari ekowisata bahari tersebut.

Dampak Positif

Hal positif pertama yakni lingkungan ekonomi. Parameter real “economy massive” menjadi tolak ukur peningkatan.

Saat ini induksi ekonomi masyarakat meningkat dengan tajam. Meningkatnya jumlah manusia yang datang ke Mandeh tentu adalah sebuah jawabannya. Masyarakat dapat tampil dengan ekonomi sederhana untuk meraup keuntungan, baik kalangan bawah ataupun kalangan ekonomi atas. Sumbar bersama seluruh masyarakatnya.

Perlu kita akui pola komplit “perdagangan” sangat baik, masyarakat setempat bisa mengemas sebuah pertumbuhan ekonomi dengan baik. Menjadikan pengembangan sumber ekonomi ekowisata dalam konteks terbaik.

Berbanding lurus dengan parameter tersebut dalam peningkatan lapangan pekerjaan masyarakat. Masyarakat yang biasanya hanya bekerja sebagai nelayan mendapat berkah dari peningkatan kegiatan pariwsiata bahari disana.

Sederhananya, Infrastuktur penunjang ikut ter upgrade melalui pembangunan besar-besaran. Bukan hanya dari investor lokal, tetapi juga investor luar yang ingin ikut unjuk gigi dalam pengembangan kawasan wisata bahari terbesar di Sumbar.

Dalam penelitian mahasiswa Universitas Riau, Kelly Fuadi dengan judul Kajian Ekowisata Bahari Tahun 2014. Skala peningkatan ekonomi terbesar, terlihat dari nilai “WTA”. Nilai tersebut memberikan titik temu antara nilai kesediaan masyarakat dalam menawarkan jasa wisata dan pengunjung sebagai penerima jasa. Bahkan, nilai kesediaan pengunjung untuk membayar jasa wisata lebih tinggi dari nilai yang diharapkan masyarakat.

Boemi Bahari Company dan Tim Penyelam Hitam (Swasta). Universitas Bung Hatta, Universitas Andalas, ITP Padang, Universitas Riau (Akademisi). Ditambah dengan komunitas selam Diving Proklamator dan Marine Science Diving Club (MSDC) sangat intens dalam beberapa tahun ini, terlibat continue turut mengembangan kawasan Mandeh, baik sebagai kawasan konservasi ataupun sebagai kawasan industri pawisata bahari.


Kawasan yang sudah dibentuk sebagai Taman Wisata Perairan tertera pada Perda Kabupaten Pesisir Selatan Nomor 7 Tahun 2011 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Pesisir Selatan Tahun 2010-2030. Tentu ini menjadi batasan real dalam pengelolaan kawasan Mandeh, sebagai Taman Wisata.

Menurut M. Tanjung, pengembangan terpadu yang “continue” dalam ruang dan waktu bukan hanya dari alam yang terkembang, melainkan dari sinergitas sumberdaya manusianya. Hal ini telah diwujudkan dari keterpaduan kegiatan-kegiatan konservasi tranplantasi karang, pelaksanaan even Underwater Photography Mandeh 2017. Hubungan yang tak terpisahkan antar lembaga pemerintahan dan pendidikan saat ini sangat “progressive” menjadi sangat cepat, tambah instruktur selam Sumatera Barat tersebut.

Minggu, 16 April 2017

2 Sistim Pengelolaan Limbah Cair Hotel Ramah Lingkungan

 

2 Sistim Pengelolaan Limbah Cair Hotel Ramah Lingkungan.


Industri perhotelan bisa dikatakan menjadi salah satu tulang punggung yang mendukung pembangunan sektor pariwisata disuatu daerah. 

Mengapa bisa dikatakan begitu?...

Karena Industri ini memberikan kontribusi positif dalam mempromosikan atau mengundang wisatawan untuk datang ke destinasi tujuan wisata. 

Ada 3 Indikator keberhasilan industri hotel dalam mempromosikan dan mengundang wisatawan.

      #1. Jumlah wisatawan yang datang
      #2. Lama tinggal wisatawan, dan
      #3. Peningkatan jumlah hunian hotel.


3 indikator keberhasilan industri perhotelan di atas memberikan dampak yang sangat positif dari sisi perekonomian. 

Jumlah wisatawan yang semakin banyak datang akan memberikan keuntungan :

     #1. Pendapatan daerah
     #2. Pendapatan bagi masyarakat lokal
     #3. Peningkatan penjualan cendera mata, kuliner  dan lain sebagainya
     #4. Pelayanan transportasi.

Bisa dikatakan secara umum industri perhotelan dan pariwisata lebih didominasi oleh kepentingan finansial.

Di satu sisi, pemerintah daerah mendapatkan sumber dana dari pajak yang dibayarkan oleh pelaku usaha hotel. Pajak tersebut tentunya digunakan untuk pembangunan infrastruktur serta potensi pariwisata yang ada.

Saat ini makin banyak hotel-hotel mengembangkan unit bisnisnya di daerah-daerah yang secara tidak langsung memberikan tekanan terhadap lingkungan sekitar.

Pengembangan dan operasional hotel selain memberikan dampak yang positif tentunya memberikan dampak yang negatif jika tidak dimanfaat dan dikelola secara bijak.


Sebagai contoh, pada kegiatan operasional hotel akan menghasilkan limbah baik dalam bentuk limbah padat maupun limbah cair.

Apabila limbah yang dihasilkan tidak dikelola secara baik tentunya akan menimbulkan ketidaknyamanan pagi para tamu/ konsumen dan wisatawan secara umum.


Maka akan menimbulkan dampak :

#1. Berkurangnya kenyamanan tamu
#2. Jumlah tingkat hunian yang menurun
#3. Menimbulkan kesan kotor, tidak sehat, berbau tidak sedap
#4. Menjadi tempat berkembangnya vektor penyakit, serta 
#5. Merusak/ mencemari lingkungan disekitarnya.